November 25, 2011

24 November. 23:23

Gue baru saja membuat kebegoan.

Pacar gue ini orangnya nggak perhatian selayaknya laki-laki berpacar lainnya, well sebenernya menurut gue yang orangnya juga nggak gitu perhatian, Subut itu sebenernya agak perhatian dengan cara yang berbeda. Agak lho ya. Subut ini orangnya cuek banget sampe bebek aja kalah. Orang yang kalo menurut dia nggak penting yaudah masuk ke kuping kanan aja nggak apalagi keluar kuping kiri.

Well, lately I admited kalo Subut berubah. Dan gue senang! Damn happy! (Dia ngga perlu tau)

Dan malam ini dia tiba-tiba dia nelfon setelah seharian nggak ngabarin apa-apa (well, seharian itu mah cipil! Pernah 2 hari lebih kita nggak kabar-kabaran sama sekali padahal di satu kota). Gue kaget campur seneng campur bertanya-tanya. Gue angkat telfonnya.

"Hallo, samlekum!"
"Kumsalam"
"Kenapa but?!"
"Yun, kamu dimana?"
 
"Di kos. Kenapa sik?"
"Yawes aku ke kosmu sekarang!"

 "Ha? Ada apaan?"
"Ya gak papa. Yawes aku kesana ya"
"Iya iya"


Call ended.

Antara percaya nggak percaya. Karena setelah masa pdkt Subut jaraaang banget mendadak ke kosan kayak barusan. Tapi karena pengalaman gue yang suka kecele' buncis sama Subut yang suka bilang "Iya aku udah mau berangkat" tapi ternyata satu jam kemudian masih belom dateng, makanya gue masih santai. Tapi ternyata beberapa menit kemudian dia sms bilang "Aku di dpn serius cepetan"
Gue langsung pake baju seadanya dan menyambut dengan stay cool padahal takjub. Dimulai dengan memujinya dengan kacamata barunya. Honestly, he's not bad. Emang kadang ganteng sih dia sebenernya, dan kali itu lagi lumayan. Obrolanpun berkembang berkembang berkembang berkembang. Kesana kemari. Dari ketawa ketawa, ngantuk ngantuk, ketawa ketawa, ngantuk ngantuk, sampe akhirnya gue bego banget.

Well, sebelumnya gue kasih tau ya. Gue ini orangnya busuk. Maksudnya adalah sukanya negative thinking. And boyfriend is the yummiest target to. I regret.
Terus dengan tololnya gue menyetir suasana menjadi sangat tidak kondusif dengan bilang, "Nggak tau kenapa aku suka banget suudzon sama kamu, But. Mikirnya kamu lagi menjalankan trik gitu, But." Dan bam! Dia merubah ekspresinya. Ya bukan yang kayak di ftv ftv yang tiba-tiba berdiri, mengeraskan mimik wajah, mengeluarkan nada tinggi lalu pergi bagai mandala surya petir. Cuma keliatan something wrong. TOLOL LO JIP TOLOL!

Mukanya masih ketawa santai kayak orang ngefly soalnya dia juga capek sebenernya. Gue tambah nyesel.
Dia merasa gue nggak percaya dia. TOLOL JIP ELO TOLOL. Terus dia pake segala bahas 'hal yang selalu kita hindari itu'. Yang bisa gue simpulkan bahwa dia bener-bener kecewa, kesel, gregetan pengen mecahin kepala gue jadi ratusan puing.

Dan entah kenapa rasanya dada nyesek banget dia pulang dengan keadaan kita lagi zzzzz banget kayak gini. Dan gue nggak bisa kayak dia yang menghibur dan bikin ketawa ketawa kalo misalnya gue yang lagi marah. Gue bingung harus ngomong apa. Akhirnya gue relain dia pergi tanpa menahan lebih kuat dari sekedar ngomong, "Aduh But jangan gini aaaaaa". Damn. Double damn. Triple damn.

Nyesek ini berkelanjutan dan menggerakkan gue untuk menatap nanar tembok lama lama. Gue berusaha menghilangkan kegusaran gue dengan melihat-lihat foto foto lama. Dan semua memori memori manis itu teringat begitu saja. Gue tersenyum nanar pada GD;laptop gue. (Ya gue memberi laptop gue nama).

Gila ya. Kalo setahunan ini gue sama orang yang bukan Subut gimana jadinya ya?
Damn flat pasti. Iya emang Subut itu amit-amit! Amiiit-amiiittttnyaaaa naujubillah! Dari mulai lupaan, males, suka jail, nggak mau dengerin, cuek, suka ngatain, rumpik, lelet, tukang maksa, telat mulu, janji palsu, blablabla. Tapi gila ya, kalo nggak sama dia? Gue? Gimana? Subut itu unik. Ya, unik lebih nyerempet freak. Tapi kalo gue nggak sama dia, kalo waktu itu dia nggak nginjek sepatu gue di wifi room, gila ya. Hidup gue tanpa Subut? Nggak perlu ada jawaban.

Coba aja kalo setahun ini gue sama orang yang perhatian sama gue, yang setiap gue pergi mesti laporan, yang kemana-mana dianter, yang kalo gue kentut dia bakal bete, yang kalo gue ngomong hal freak dia nggak bakal bilang "entutmu a", yang lebih sayang sama gue daripada gitarnya, yang setiap malem nelfon, yang setiap gue mintain tolong selalu bantu, yang nggak suka jitak gue, yang nggak suka jailin gue. Dude, life seems so borring.

Ya Tuhan, iya aku suka. Suka. Suka! Suka sama laki-laki ini. Laki-laki yang lebih mencintai gitarnya daripada aku, laki-laki yang suka menyamakan-nyamakan apapun antara kita berdua, yang suka bau kentut ketek kaki apapun bahkan bau kacamataku, yang suka bikin aku menunggu sampe ngamuk, yang pernah lupa tanggal ulang tahunku, yang memberiku hadiah ulang tahun hanya berupa foto editan cupu yang dibuat untuk lelucon, yang menyogok aku yang marah dengan telur goreng dengan tempat makan berbentuk hati, yang pasti ketawa bingung kalo aku ngambek, yang sadar sendiri kalo jayusnya udah keterusan, yang selalu terang-terangan bilang kangen, yang hobinya ngajak aku ke rumahnya, yang nggak pernah berhenti membujukku untuk mau nginep di rumahnya, dan ya, yang mencintaiku apa adanya.

Aku butuh kamu dan segala kekurangan kamu, ya, dan segala hal positif yang kamu tau nggak ada didiri kamu tapi kamu berusaha untuk ada didiri kamu.
Aku butuh kamu dan cita-citamu yang berubah-ubah itu. Aku butuh kamu dan lawakanmu yang kadang sukses kadang nggak itu.
Aku butuh kamu dan segala kejujuran kamu yang sederhana.
Aku butuh kamu dan seluruh keseriusan dan kehumoranmu, semuanya, dua-duanya.

Kamu Subut. Kamu :(

1 comment:

Acil Aluh said...

asiiiiiiiiiiiiiiiikkk mamennn... lo bisa jujur... saluuuuttttttttt

Contact me here!